Sehebat-hebarnya orang meniru, mengadopsi apa yg kita buat. jauh dari itu “nyawa bisnis” hampir mustahil  Terkadang, yg kita lakukan, yg kita miliki saat ini adalah mimpi bagi orang lain juga.
Obrolan di meja seduh itu liar, bisa bergulir kesana kemari seiring tamu yg datang. Kami merekam banyak obrolan dengan pasien (sebutan pengunjung) yg datang.
Pernah kali waktu ada yg sukses menurunkan berat badan hanya dengan mengungrangi pola makan dan segalanya. Hanya butuh 1 tahun, berat yg awalnya hampir menyentuh 100kg, menjadi stabil diangka 70kg. Badannnya nampak lebih kecil, lebih lincah, beda dengan ketemu1tahun yg lalu. Obrolan mulai mengalir soal asupan non gula, non daging, non susu hingga konsumsi beras merah. Obrolan dimeja seduh, tak melulu soal kopi dan kopi. 
Lalu ada juga obrolan juragan begkel, yg mengeluh ada bbrp pelanggannya belum bayar oli serta biaya reparasi AC mobil. Dia lalu tanya ke kami, gimana cara mengelola uang dan nagih ke pelanggan yg datang.  Obrolan mulai ke arah lebih sensitif, bahwa 2 tahun lagi sewa tempat habis, dan pihak yg punya tempat menaikkan harga 30% dari harga sewa sekarang. Ga di mobil, ga di kopi, masalah ini selalu pelik, sewa tempat selalu naik jika warung/bengkelnya rame. 

Salah kalo sebagai penyeduh hanya tahu sebatas kopi, roasting atau pascapanen. Karena sebagai penyeduh melayani banyak lapisan, maka mau ga mau harus bisa menguasai “sedikit” ttg hal yg dibicarakan. Mulai soal budidaya lele, soal gimana soal saham dan reksadana, mengimbangi obrolan soal RAB rumah, bahkan mengimbangi obrolan seorang reserse datang, hingga soal bermain gitar misal.
Bagi kami, ingat ya..ini bagi kami ; Rugi ketika menyeduh hanya bermodal teknik menyeduh, tanpa obrolan, tanpa interaksi dua arah, maka hanya jadi minuman berwarna hitam saja.