Klinik kopi

Duet maut

duet maut1

duet maut

Beberapa kali kami lewat Kota brebes, kami selalu menemukan penjual telur asin yg berjejer di sepanjang jalan itu. Jumlahnya tak hanya satu, dua tapi bisa puluhan. Juga yg kami lihat di sekitar Desa Turi Sleman, di pinggir jalan berjejer penjual salak pondoh, bahkan ada yg mengklaim ini manis, ini enak awet buat oleh-oleh.

Kalo mau coba lagi, ada di sekitaran jalan wates, ada penjual soto kadipiro. Awalnya, mungkin hanya satu, tapi sekarang sederet itu berjejer soto2 kadipiro. Dengan bahan yg sama, dengan tempat yg sama, bahkan dengan resep yg sama, hasil akan beda banget.
Lalu gimana pasar akan meilihnya ? ada dua hal perlu kita pelajari dari pola itu. Bahwa brand itu tak akan lepas dari sang pemilik atau penjual. Atau brand itu akan menyebar dari orang2 yg pernah mencicipi soto salah satu toko tersebut. Jadi,ketika sudah percaya dengan sesuatu brand itu, maka pasar akan menyerap jauh lebih cepet.  Gimana cara mentransfer informasi itu, gimana kekuatan produk hingga rasanya.
Sama dengan duet maut, dengan  green beans yg sama, dengan dua roaster yg berbeda, maka akan menghasilkan rasa yg beda, itu sudah pasti. Hal yg menarik dari duet maut adalah kolaborasi, sebab dengan kolaborasi…bukan siapa yg enak, bukan soal siapa yg jago, tapi akan menghasilkan dua rasa baru yg beda. Secara tidak langsung, akan mengedukasi peminum, dengan beans sama, beda cara mendevelop kopinya, rasa beda. itu point utama.
Makasih buat @space.roastery atas kolaborasi ini. Sampai ketemu dengan kolaborasi selanjutnya.
salam Klinik Kopi

Leave a Reply