Klinik kopi

17 Februari 2015

KLinik kopi baru
17 Februari 2015, bagi kami adalah tanggal yg bersejarah. Itu pertama kalinya kami pindah lokasi jualan, yg awalnya di Jalan Gejayan lalu pindah ke rumah. Bukan perkara mudah membawa bisnis ke rumah untuk berjualan. Awalnya sempet pesimis, “wah, ntar ada orang yg datang ga ya ? “ sama sekali rumah kami emang bukan settingan warung kopi. Bahkan pernah di tolak Bank untuk pinjaman gara2 bangunan kami masuk gang. Ya sudahlah, buka seadanya saja.

lantai 2 belum ada, jangankan kepikir bikin lantai 2, area depan saja masih berantakan. Atap selasar sudah jadi, cuman lantai tegel belum ada. Bbrp kali kami buka di rumah, lalu nabung untuk beli tegel seken (bekas). Kekuatannya adalah di konsumen sendiri. Mereka dapat kopi yg setimpal, lalu cerita ke orang lain. Polanya bisa dengan postingan instagram, path atau nulis di blog.
Di saat itu, belum ada pola antrian seperti sekarang. Antara satu orang dengan orang lainnya kami cukup hapal dan masih bisa ke handel dengan baik. Awal2 datang baru 10-15 orang dalam semalam.
Ga kerasa dua tahun kami sudah melakukan bisnis ini di rumah, banyak suka dan duka…tapi lebih banyak senengnya. Kami ketemu banyak orang2 yg diluar lingkaran kami, kami kenal bbrp orang dari segala sudut pandang, kami tumbuh layaknya pohon cabe, tumbuh dan berbuah dan bermanfaat bagi banyak orang yg suka cabe.
bahwa kami bisa bertahan sampai sekarang adalah karena kekuatan berbagi,kami melakukan apa2 yg kami suka….
jadi ingat quote Alm Bob Sadino “ Sebagian besar orang “pintar” sangat pintar menganalisis. Setiap satu ide bisnis, dianalisis dengan sangat lengkap, mulai dari modal, untung rugi sampai break event point. Orang “bodoh” tidak pandai menganalisis, sehingga lebih cepat memulai usaha.

Leave a Reply