Bikin rumah itu hanya soal kita mau berdamai dengan ego.  Dana terbatas tapi keinginan dan ego terlalu banyak. Ego muncul lantaran umur (usia) atau Ego muncul karena pergaulan.  Karena temen-temenya punya rumah yg model A, maka akan memilih juga sama dengan model A, tapi keuangan tidak cukup maka akan dipaksakan mirip. Atau melihat rumah temen (tetangga) ada tanaman, maka ikut pelihara tanaman. Sedangkan waktu buat sendiri saja kurang, apalagi ngurus tanaman. 


Kalo kalian perhatian, rumah kami tak ada ruang tamu. Yg ada, semua sudut rumah bisa buat menerima tamu, setiap sudut rumah bisa buat kerja, asal ada colokan atau narik kabel colokan, disanakan bisa kerja. Ego kami harus kami turunkan, bahwa sejatinya…rumah tak harus ada ruang tamu. semua ruangan bisa buat menerima tamu.  Pernah dan ini bukan hanya sekali, ketika ada tamu kami mempersilahkan “ mas, mau duduk diluar atau didalam rumah “ . Tamunya seraya berkata “ di luar saja mas, lebih adem dan banyak angin”. tinggal narik meja buat naroh gelas kopi, serta manasin roti. Maka jadilah menjamu tamu di misbar (grimis bubar).


Bikin rumah adalah buat hadiah diri sendiri.Umur warung kami baru tahun ini ke 7, kami mau ada hadiah tahun depan dengan rumah yg baru (tahap 3).  Pernah kami kaki pegel-pegel hari sabtu malam lantaran mulai dari pagi hingga sore antrian yg datang ga habis-habis. Gelas, dan piring kotor numpuk belum kecuci,bbrp asbak sudah penuh dan tempat duduk juga habis. Kami hanya menatap orang2 yg sedang liburan ke jogja, seraya bergumam “ kapan ya kita liburan”.  
Dengan adanya kerja di rumah, sekolah di rumah dan semua di rumah. Maka kami makin sadar, bahwa sejatinya rumah adalah segalanya. Itu kenapa ada istilah “sandang ,pangan,papan”.